Kamis, 23 Februari 2012

kisah cinta yg di tunjuk allah

Satu-satunya yang kini diinginkan sang pencinta adalah Kekasih. Ia bahkan tidak melihat khazanah kedua dunia. Khususnya, ketika cinta ditujukan pada Esensi Allah, maka sang pencinta tidak melihat apa pun selainnya dan berseru :

Meski seribu anak panah diarahkan ke mataku,

Mustahil aku menutup mataku dan, dengan begitu,

mengingkari diriku sebagai tatapan Wajah-Mu.

Sang pencinta menutup matanya pada segala sesuatu lainnya dan mengarahkan pandangannya pada wajah kekasihnya semata. Ia bahkan tidak menyadari keberadaan wujud lain. Api cinta meliputinya dari segala penjuru dan melenyapkan wujudnya sendiri. Rumi mengatakan :

Duhai hidup para pencinta ada dalam kematian ;

Engkau takkan bisa merebut hati Kekasih kecuali dengan melenyapkan dirimu sendiri,

Kami memperoleh harga dan nilai darah,

Kami segera mempertaruhkan jiwa kami.

Tenggelam teramat dalam di dalam cinta,

Karena di sana tenggelam juga cinta orang-orang terdahulu dan terkemudian.

Ia juga mengatakan :

Tiba saatnya bagiku untuk berpisah,

Meninggalkan bentuk (jasmani) dan jadi ruh sepenuhnya.

Bagaimana bisa hati (Kekasih)-Nya dibahagiakan hingga aku membakar ?

Duhai, hatiku adalah rumah dan kediaman-Nya.

Jika engkau ingin membakar rumah-Mu, bakarlah !

Siapakah ia yang mengatakan, “Ini tidak boleh.”

Bakarlah rumah ini (seluruhnya), wahai Singa geram !

Rumah pencintamu memang lebih baik demikian,

Karena, aku akan menjadikan pembakaran ini kiblatku,

Sebab, aku seperti lilin ; aku (dibuat) terang dengan pembakaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar